Minggu, 09 Desember 2012

Aku Bukan Penyandang Cacat

"Disability is about a perception. If you can do just one thing well, you're needed by someone" - Martina Navratilova



Oh, I love that quote. Oke, ayo coba kita pelan-pelan break down quote diatas. Disability is about a perception. Iya banget! Cacat atau tidaknya seseorang itu tergantung banget dari pandangan si individu terhadap dirinya sendiri. Tapi percaya nggak, kalo kita, normal people, punya andil juga loh untuk menentukan apakah individu itu cacat atau tidak. Kok bisa? Gimana caranya?

From your words...
Guys, please connect your tongue with your brain before you speak. Gua setuju banget kalo kata-kata itu lebih tajem dari pedang. Yang setuju boleh angkat tangan! Kata-kata negatif yang keluar dari mulut kita bisa berakibat buruk buat orang yang denger kata-kata kita. Nggak percaya? Sekarang samperin deh orang rumah kalian. Samperin koko, cici, dede, atau sepupu kalian, terus bilang 'BEGO LU!'. Nggak ribut aja nanti udah bagus. Nggak ada orang yang suka dikata-katain. Kalo kita, normal people aja nggak suka dikata-katain, apalagi orang-orang dengan keterbatasan fisik di luar sana. Mungkin kesannya biasa aja yah buat kita ngatain orang yang jalannya pincang dengan kata "Ih liat deh, jalannya pedok gitu dia. Cacat abis!"atau "Ih bibirnya mengok gitu, jelek mampus!". Kalo penyandang cacatnya itu sensitif-an orangnya, uhuuuk..kayak gua sensitif-an banget (period everyday! *upsss*), kata-kata kayak gitu bisa norehin luka batin dan efeknya adalah..individu itu bakal nganggep diri dia jelek atau cacat. Nggak maju-maju jadi deh dia, Nggak bisa do just one thing well deh, then karena nggak bisa ngelakuin satu hal dengan baik gara-gara tekanan kata-kata dari lingkungan sekitarnya, orang-orang makin nganggep individu ini cacat dan nggak bisa diandelin. Ujungnya? Ujungnya disingkirin dari komunitas. Serem yah..




From your attitudes...
Ini juga harus hati-hati masbro dan mbaksis. Ada orang cacat fisik ceritanya lewat di depan kita, terus kita ngeliatin orang ini dengan tatapan aneh, jijik, dan ngeremehin. Yang kayak gini bisa bikin individu dengan keterbatasan fisik jadi minder loh. Yah kita aja deh contohnya dateng ke suatu acara dengan dandanan se-oke mungkin, terus begitu kita sampe, turun dari mobil, tutup pintu mobil, kita ngeliat setiap orang yang lewat mandangin kita dengan tatapan nggak biasa. Pasti mikir dong yah, apa yang salah dari diri kita. Masuk ke dalam ruangan, masih diliatin juga. Pede nggak kita? Nggak bakal pede deh. Pasti langsung kita nanya-nanya, "Kenapa sih? Bajunya jelek yah?" bahkan saking nggak pedenya, kita pasti langsung lari ke toilet, iya kan? Nah, sama aja kayak orang cacat yang diliatin terus pake tatapan yang nggak banget. Pede nggak dia? Nggak. Apalagi dia tau kalo diliatin gara-gara kondisi fisiknya yang nggak normal. Makin nggak pede dia. Plus, jeleknya banyak orang adalah...saat liat orang cacat, most of us pasti menghindar! Iya banget ato iya banggeeeetzzz?! hahaha. Sejuta deh alesannya kalo disuruh deketin orang cacat. Mulai dari geli sampe takut direpotin. Padahal sebenernya support orang-orang normal lah yang mereka perluin. Sekedar ucapan "Semangaaat! lo pasti bisa jalan lagi!" atau "Ayo, lo pasti bisa ngomong dengan bener lagi!" udah cukup berarti buat mereka yang cacat.



Bisa banget lo ling buat nulis kayak begini...owyeaaah, reader, gua lupa bilang kalo gua adalah salah satu dari penyandang cacat fisik :) Sedikit cerita yah..

November 2012 kemaren gua divonis oleh dokter kalo gua udah cacat. Dari cuman sekedar layup di lapangan basket, gua harus berakhir dengan tongkat besi cantik sekarang. Dari lapangan basket, tempat nongkrong gua pun akhirnya pindah ke pusat rehabilitasi buat benerin cara jalan gua yang katanya udah cacat TOOOK! Entah apa yang salah dengan kaki gua, yang jelas gua beruntung masih bisa punya dua kaki lengkap walaupun yang satu udah nggak se-perfect dulu.

Gua pernah bilang sama satu temen gua begini "kalo gua cacat dari gua lahir, gua masih bisa terima. Tapi kalo gua cacat setelah gua lahir perfect, proses nerima dirinya lebih susah." Akuilah itu temen-temen. Kalo lo miskin dari lahir, pasti lo masih bisa nerima. Tapi kalo lo lahir kaya terus bokap lo bangkrut mendadak..he he he..gua mau tau apa reaksi lo.. Kesel? Marah? Depresi? Frustasi? Yah itu lah kira-kira gambaran kondisi gua sekarang.

Dan apa yang lo lakuin saat lo depresi, kesel, marah, atau frustasi? Salah satunya pasti nyari temen curhat. Bener nggak? Itu yang gua lakuin. Kaki gua sakit banget, tapi mental gua lebih sakit lagi. Saat gua perlu temen cerita, my friends..they disappear,wooosh..ilang. Satu pun susah banget di kontek. Saat gua mulai cerita, mereka men-judge gua. Mereka pikir gua tukang ngeluh. Mereka pikir gua tukang galau. Ade gua mulai nggak mau pergi sama gua karena menurut dia jalan-jalan sama gua dengan sikon gua yang kayak gini bakal ngerepotin dia. Yap, he said directly to me.

Beberapa temen gua mulai ngeledekin dengan kata-kata "Cacat luh!" Salah satunya pernah ngasih pertanyaan "Jadi, lo cacat sejak kapan?". Kata-kata simple, tapi ngebekas banget. Gua mau marah dan bela diri dengan bilang gua nggak cacat, mereka akan balikin lagi dengan kenyataan kalo gua memang ngaamin keterbatasan fisik. Gua mau jawab "dari November cacatnya" disatu sisi hati gua tereak kalo gua nggak cacat.

Gua yakin, gua bukan satu-satunya orang cacat yang ngalamin hal ini. Masih banyak orang cacat diluar sana yang ngalamin hal serupa sama gua.

Dan buat kalian, normal people di luar sana. Mau nggak kalian jadi 'tongkat' buat orang-orang asing atau temen kalian yang ngalamin cacat fisik kaki? Mau nggak jadi 'tangan palsu'nya orang-orang yang tangannya udah nggak ada? Mau nggak jadi 'messanger'nya orang-orang bisu dan tuli?

Kami memang perlu doa. Kami menerima banyak doa. Di setiap gereja, pastor akan mendoakan kami saat doa umat, "Bagi mereka yang sakit dan cacat...", Ya, kami terima banyak doa dan Tuhan nggak tuli untuk dengerin ratusan umat yang memohon doa untuk kami, penyandang cacat fisik. Tapi diluar dari doa, kami benar-benar perlu support. Kami perlu dianggap selayaknya orang normal. Kami perlu sahabat yang mau berjalan dengan keterbatasan kami. Dengan  bantuan doa dan kasih Tuhan yang disalurkan lewat kalian, sahabat, kami sanggup menerima kondisi kami yang jauh dari normal and we can do just one thing well :) 









Kamis, 01 November 2012

Rabu, 24 Oktober 2012

The Warren Brothers - Dear Mr. God


Hubungan Penolakan Yang Yesus Alami Dengan Penolakan Yang Kita Alami

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

      Penolakan merupakan suatu keadaan dimana individu tidak dianggap dan ditelantarkan oleh orang-orang disekitarnya. Penolakan merupakan kata kerja yang memiliki efek menyakitkan bagi yang merasakannya (eh bener kan yah kata sifat?)

      Penolakan dapat terjadi kepada siapa pun dan dimana pun tanpa mengenal batas usia, status, serta ketampanan atau kecantikan seseorang. Yah, walaupun sebenernya faktor muka juga jadi pengaruh apakah seseorang itu ditolak atau nggak sih. Bayangkan jika orang jelek, cupu, cemen nembak cewek cantik, sexy, bohai..kalo sampe diterima pasti itu cewek gila! atau mungkin ada maunya. (sumber: pengalaman percintaan teman dan sinetron di televisi)

     Semua makhluk hidup pasti pernah merasakan penolakan, baik tumbuhan, hewan, manusia, sampai pada Yesus sendiri pun ditolak saat Ia turun ke dunia atas titah Bapa. Seperti saat Ia akan disalib, Petrus menolak-Nya dengan menyangkal Yesus sebanyak tiga kali dan saat Ia berdoa di Taman Getsemani, murid-muridNya malah tidur ninggalin Yesus. (sumber: Christine Natalia dan ci Riesa)

    Dikarenakan Yesus sudah pernah mengalami penolakan, maka sekarang kita pun umat-Nya juga dituntut untuk mampu merasakan penolakan sama seperti yang Yesus rasakan 2000 tahun silam.

1.2 Rumusan Masalah

      Adakah hubungan antara penolakan yang dialami Yesus dengan penolakan yang dialami manusia?

1.3 Tujuan Penelitian

      Ada pun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui seberapa besar hubungan antara penolakan yang dialami Yesus dengan yang dialami manusia.
2. Memberikan motivasi kepada pembaca untuk bertahan dalam penolakan
3. Memberikan pengetahuan kepada pembaca agar tetap mensupport individu yang ditolak

1.4 Manfaat Penelitian

1. Memotivasi individu yang ditolak untuk tetap bertahan dalam situasi sulit
2. Mengajak pembaca untuk meminimalis proses penolakan


METODE PENELITIAN

2.1 Metode Penelitian

      Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasional, dimana dalam penelitian ini, penulis akan mencoba menjabarkan pengaruh penolakan yang dialami Yesus terhadap penolakan yang manusia alami.

      Metode penelitian ini akan mengikuti mood dari penulis. Maka dari itu, metode penelitian ini akan bersifat kuantitaif - kualitatif *seenak jidat aja emang*

2.2 Narasumber

      Narasumber dalam penelitian ini akan berpusat pada individu yang mengalami penolakan, Yesus, Petrus, dan Yudas Iskariot si penghianat.

2.3 Teknik Pengumpulan Data

      1. Observasi
          Observasi untuk penelitian ini akan dimulai dengan membuka alkitab, membaca alkitab, mengambil daily bread pemberian Fani, dan makan roti manna berayat pemberian July. Dalam observasi, peneliti akan mencari ayat-ayat pendukung yang membenarkan bahwa Yesus pun ditolak.

      2. In Depth Interview
          Atau biasa dikenal dengan wawancara mendalam. Peneliti akan menggali informasi secara mendalam dari para narasumber.

      3. Dokumentasi
          Peneliti akan mengumpulkan berbagai gambar, lukisan, coretan, serta video-video yang menunjukkan bahwa Yesus pernah ditolak.

2.4 Waktu & Tempat Penelitian

      Penelitian ini akan berlangsung dari tanggal 24 Oktober 2012 hingga ajal menjelang. Lokasi penelitian akan dilangsungkan di restoran atau kafe ber-wifi, di kamar tidur, di kantor, di kampus, dan di surga kelak. Pokoknya yang pewe aja deh buat ngobrol dan nongkrong

2.5 Keterbatasan Penelitian

      Dalam menyelesaikan penelitian ini, penulis memiliki beberapa hambatan seperti, penulis yang terlalu batu, penulis yang terlalu memakai logika, penulis yang suka males doa, penulis yang suka galau, penulis yang males baca alkitab, penulis yang... eh kok jadi penulis semua yang bermasalah -.-"
Oh...Tuhan yang terlalu abstrak bagi penulis, sehingga wawancara agak sukar dijalankan.

- kuesioner menyusul -
    



Tuk..Tuk..Dhuaar!


Senin, 01 Oktober 2012

God's Plan

Tuhan itu kreatif. Bagaimana Ia nyiapin rencana indah buat umat-Nya itu kagak pernah bisa ditebak, tapi hasil akhirnya pasti W-O-W banget. Buat gua yang selalu dikecewain, ditinggalin, dan ditolak, Tuhan itu nggak jauh beda dari keluarga dan temen-temen gua. Ngecewain. Nyebelin. Jahat. Sebagai pengikut Kristus, gua buta. Gua nggak pernah ngeliat penyertaan Tuhan dalam hidup gua. Buat gua walaupun Tuhan itu berwujud manusia sekalipun, Dia nggak bakal tertarik sama sekali dengan semua masalah, penghinaan dan sakit hati yang gua punya. Buat gua Dia lebih peduli sama orang-orang yang selalu muji Dia setiap hari dan selalu ngomong 'Praise God, Halleluyah' dibanding peduli sama gua yang lidahnya selalu kaku buat muji dan bersyukur sama Tuhan. So, dibanding ngarepin Tuhan yang jelas-jelas nggak pernah peduli sama hidup gua, gua lebih prefer buat pakai logika sendiri buat nyelesaiin semua masalah dan beban hidup gua. Nyatanya, makin gua berdiri dengan logika gua sendiri, gua malah makin jatuh. Dan ketika gua jatuh, gua malah maki-maki Tuhan dibanding balik minta maaf dan ngandelin Tuhan. Itu terjadi berkali-kali. 

Sampai akhirnya gua masuk kuliah dan ketemu orang-orang yang luar biasa. Sampai detik gua nulis ini, gua masih nggak percaya kenapa gua bisa temenan sama mereka. Mereka adalah tipe orang-orang yang lebih dipeduliin sama Tuhan, sedangkan gua adalah tipe yang harusnya dimatiin secepetnya terus dilempar ke neraka langsung. Ini jadi beban pikiran gua selama temenan sama mereka. Nerka-nerka kenapa harus gua harus digabungin sama mereka. Pertanyaan ini makin mencuat di otak gua saat gua sadar kalo temenan sama mereka pun sebenernya gua ditolak. Emang gampang bagi sebagian orang ngomong "Leave them lah. Udah digituin masih mau stay?" tapi susah buat ngejalanin kalo lo udah nganggep mereka bagian dari keluarga lo sendiri, walaupun mereka sendiri belom tentu nganggep lo jadi bagian keluarga mereka. Jangan ngarep! Dianggep temen aja udah bagus. Atau mungkin sebenernya lo sendiri cuma dianggep nyamuk yang cuma numpang lewat.

Sekarang gua baru realize kenapa gua digabungin dengan orang-orang religius ini. Secara nggak langsung mereka dipake Tuhan buat ngebenerin hidup gua. Mereka adalah segelintir temen yang nggak nyerah ngadepin gua dan segala sifat annoying gua. Mau gua sebatu apapun, mau pikiran gua senegatif apapun, they never quit on me dan sekarang gua sadar kalo mereka bisa tahan sama gua selama hampir 2 tahun ini juga karena kuasa dari Tuhan. Kalo Tuhan nggak nurunin kuasa-Nya ke diri mereka dan nggak ngasih mental serta sabar yang panjang ke mereka, sekarang gua masih ada di dalem kamar dengan kondisi menyedihkan. Sekarang gua baru liat kerja Tuhan dalam hidup gua, setelah gua ditampar sama berbagai masalah. Gua melihat bagaimana kerja Tuhan yang kreatif itu di dalam diri gua sendiri, bukan lagi di diri orang lain.

Let's not be dramatic here..
terimakasih untuk semuanya Tuhan
I was blind but now I can see
terimakasih untuk mereka yang selalu ada untukku
terimakasih untuk tidak menyerah padaku Tuhan

Manusia memang mengecewakan Tuhan
Kau saja yang tidak mengecewakan
Namun se-mengecewakan apapun mereka Tuhan,
I do really love them...
keluarga, sahabat, teman-teman
bless, protect and please take care of them

This s my left leg..
Ambil Tuhan..
I prefer to lose my leg or live with this pathetic leg
rather than I lost my family and my beloved friends


ps: I wanna make a movie about it God *doarosario*